
Warga Sukaresmi mulai cemas, pergerakan tanah terus terjadi. Foto: (Yayan).
Cianjurterkini.com – Warga Desa Kubang, Kecamatan Sukaresmi, dilanda kecemasan akibat pergerakan tanah yang terjadi di Bukit Cibuntu, Desa Cibanteng. Mereka khawatir bencana longsor besar sewaktu-waktu terjadi dan menimpa permukiman warga di Kampung Cihonje yang berada di bawah area perbukitan tersebut.
Salah satu warga Desa Kubang, Dayat, mengatakan rekahan tanah semakin melebar setiap kali hujan deras turun. Kondisi itu memicu longsoran kecil yang membawa lumpur ke wilayah Cihonje.
“Saya khawatir pergerakan tanah di Cibuntu suatu saat berubah menjadi longsor besar yang tidak bisa dibayangkan,” ujarnya.
Menurut Dayat, kondisi cuaca yang memasuki musim penghujan membuat potensi bencana semakin besar.
“Oleh sebab itu, kami berharap pemerintah segera menindaklanjuti sebelum terjadi longsor lebih parah,” tambahnya.
Lumpur Cemari Anak Sungai, 7 RT Terdampak
Kepala Desa Kubang, Agus Mulyana, menjelaskan bahwa meskipun jaraknya cukup jauh dari titik bencana, lumpur dari longsoran Bukit Cibuntu sampai ke Kampung Cihonje dan berdampak pada kehidupan warga.
“Setiap hujan, lumpur dari Cibuntu mengalir ke kebun warga, mencemari anak Sungai Cihonje, dan menyumbat sumber air bersih,” kata Agus saat ditemui di kantornya, Kamis (27/11/2025).
Ia menyebutkan, imbasnya dirasakan warga dari tujuh RT yang kini kesulitan memperoleh air bersih untuk mandi, mengairi kolam, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya.
Zona Rawan Tanah Bergerak Sejak Dua Tahun Lalu
Di tempat terpisah, Kepala Desa Cibanteng, Muryani, mengungkapkan wilayahnya memang termasuk zona rawan pergerakan tanah. Setiap musim hujan, warga merasakan getaran dan melihat keretakan pada rumah, tanah, serta ruas jalan desa.
Menurutnya, pergerakan tanah di Kampung Cibuntu telah terdeteksi sejak dua tahun lalu. Pada akhir Oktober 2025, kondisi semakin parah.
“Tanah merekah, dua rumah warga rusak berat, dan ruas jalan desa di beberapa titik mengalami retakan serta amblas,” jelasnya.
Lahan pertanian pun ikut terdampak. Dari sebelumnya sekitar 25 hektar, rekahan kini meluas ke titik lain dan memicu longsoran baru.
77 Rumah Terdampak, Bantuan Sudah Disalurkan
Data desa mencatat 77 rumah dari 97 kepala keluarga terdampak bencana pergerakan tanah ini. Laporan sudah disampaikan ke Pemerintah Kabupaten Cianjur.
“Alhamdulillah warga sudah menerima bantuan logistik dari PMI, Dinsos, dan BPBD Kabupaten Cianjur,” ujar Muryani.
Selain itu, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHP-KP) Kabupaten Cianjur juga menyalurkan 1 ton beras untuk warga di Kampung Cibuntu, Kabandungan, dan Sirnagalih.
Saat ini warga masih menunggu arahan resmi pemerintah terkait langkah mitigasi.
“Apakah wilayah ini masih layak dihuni atau warga harus mengungsi? Kami masih menunggu keputusan,” kata Muryani. (Yan).
Komentar